|
No
|
Aspek
|
Implikasi
Filsafat Pendidikan Idialisme
|
|
1
|
Tujuan Pendidikan
|
Tujuan Pendidikan Pendidikan
formal dan informal bertujuan membentuk karakter dan mengembangkan bakat atau
kemampuan dasar serta kebaikan social.
|
|
2
|
Kurikulum
|
Kurikulum pendidikan liberal untuk
pengembangan kemampuan rasional dan pendidikan praktis untuk memperoleh
pekerjaan.
|
|
3
|
Metode Pembelajaran
|
Metode Diutamakan metode
dealektika, tetapi metode lain yang efektif dapat dimanfaatkan.
|
|
4
|
Peserta Didik
|
Kedudukan siswa bebas utnuk
mengembangkan kepribadian dan kemampuan dasarnya/bakatnya.
|
|
5
|
Peran guru
|
Peran guru bekerja sama dengan
alam dalam proses pengembangan manusia, terutama bertanggung jawab dalam
menciptakan lingkungan pendidikan siswa.
|
Senin, 26 Januari 2015
Implikasi Filsafat Pendidikan Idialisme
Manfaat Filsafat Bagi Kehidupan
Dengan befikir filsafat, kita dapat mengatasi kemelut hidup. Hal ini
dapat terjadi karena dengan memahami apa itu filsafat, maka kita dapat
menggunakannya atau menerapkannya didalam kehidupan sehari-hari,
sehingga tidak mengarah kepada jalur yang tidak pernah diharapkan
sebelumnya.
Beragam masalah di Indonesia tidak akan bisa selesai dengan pendekatan-pendekatan teknis, seperti pendekatan ekonomi teknis, pendekatan politik teknis, pendekatan teknologi teknis, ataupun pendekatan budaya teknis. Beragam masalah tersebut bisa selesai dengan sendirinya, jika setiap orang Indonesia mau berfilsafat, yakni menjadikan filsafat sebagai jalan hidup, apapun profesi sehari-hari mereka. Jalan hidup filsafat menawarkan pencerahan yang menggairahkan.
Filsafat timbul karena kodrat manusia. Manusia mengerti bahwa hidupnya tergantung dari pengetahuannya. Pengetahuan itu digunakan untuk menyembpurnakan kehidupannya. Karena konsekuensi dari pandangan filsafat itu sangat penting dan menentukan sikap orang terhadap dirinya sendri, terhadap orang lain, dunia, dan tuhannya. Tingkah laku manusia berlainan sekali dengan tingkah laku hewan, manusia adalah merdeka,ia dapat mengerti, menciptakan kebudayaan, ilmu pengetahuan.
Filsafat itu berhubungan erat dengan sikap orang dan pandangan hidup manusia, justru karena filsafat mempersoalkan dan menanyakan sebab – sebab ya ng terakhir dari kesmua yang ada.
Apabila filsafat dijadikan suatu ajaran hidup maka ini berarti bahwa orang mengharapkan dari filsafat itu dasar – dasar ilmiah yang dibutuhkannya nuntuk hidup. Filsafat diharapkan memberikan petunjuk – petunjuk tentang bagaimana kita harus hidup untuk menjadi manusia sempurna, baik, susila dan bahagia.
Beragam masalah di Indonesia tidak akan bisa selesai dengan pendekatan-pendekatan teknis, seperti pendekatan ekonomi teknis, pendekatan politik teknis, pendekatan teknologi teknis, ataupun pendekatan budaya teknis. Beragam masalah tersebut bisa selesai dengan sendirinya, jika setiap orang Indonesia mau berfilsafat, yakni menjadikan filsafat sebagai jalan hidup, apapun profesi sehari-hari mereka. Jalan hidup filsafat menawarkan pencerahan yang menggairahkan.
Filsafat timbul karena kodrat manusia. Manusia mengerti bahwa hidupnya tergantung dari pengetahuannya. Pengetahuan itu digunakan untuk menyembpurnakan kehidupannya. Karena konsekuensi dari pandangan filsafat itu sangat penting dan menentukan sikap orang terhadap dirinya sendri, terhadap orang lain, dunia, dan tuhannya. Tingkah laku manusia berlainan sekali dengan tingkah laku hewan, manusia adalah merdeka,ia dapat mengerti, menciptakan kebudayaan, ilmu pengetahuan.
Filsafat itu berhubungan erat dengan sikap orang dan pandangan hidup manusia, justru karena filsafat mempersoalkan dan menanyakan sebab – sebab ya ng terakhir dari kesmua yang ada.
Apabila filsafat dijadikan suatu ajaran hidup maka ini berarti bahwa orang mengharapkan dari filsafat itu dasar – dasar ilmiah yang dibutuhkannya nuntuk hidup. Filsafat diharapkan memberikan petunjuk – petunjuk tentang bagaimana kita harus hidup untuk menjadi manusia sempurna, baik, susila dan bahagia.
Filsafat manusia
Ruang lingkup filsafat manusia dan metodenya pertama-tama mencoba
memahami filsafat manusia dengan menjelaskan objek material dan objek
formalnya, menjelaskan persamaan, perbedaan dan hubungan antara filsafat
manusia dengan berbagai ilmu tentang manusia lain lalu baru disampaikan
metode-metode dalam filsafat manusia. Pejajaran pertama yaitu tentang
corak dan berbagai aliran dalam filsafat manusia dibagi atas:
Sejak zaman Rousseau, demokrasi, liberal, dan perkembangannya membawa dampak pendiskusian mendalam tentang kebebasan dan tanggung jawab pada manusia, meski pun isu kebebasan dan tanggung jawab sebenarnya seharusnya sudah ada sejak beberapa ribu tahun yang lalu, namun pembahasannya baru serius tampaknya sejak Rousseau, di sini filsafat juga berperan dalam masalah filosofis tentang kebebasan dan tanggung jawab.
- Corak pemikiran manusia dalam filsafat manusia
- Berbagai aliran dalam filsafat manusia
- Pembahasan tentang tesis-tesis tentang manusia dan gambaran manusia seutuhnya
Dimensi kejasmanian dan kerohanian antara lain membahas tentang: - Manusia sebagai makhluk yang memiliki struktur fisik (tubuh)
- Manusia sebagai makhluk yang memiliki akal budi (jiwa)
- Manusia sebagai makhluk yang memiliki dimensi roh
- Pandangan banyak filsuf terhadap bagaimana hubungan aspek kejasmanian dan kerohanian di dalam diri perorangan.
- Sosialitas manusia
- Manusia sebagai makhluk sosial
- Manusia sebagai pribadi (subjek otonom)
- Manusia sebagai makhluk yang bermasyarakat
- Pandangan tentang sosialitas dan keunikan manusia serta prinsip dasar dalam pengaplikasiannya
Sejak zaman Rousseau, demokrasi, liberal, dan perkembangannya membawa dampak pendiskusian mendalam tentang kebebasan dan tanggung jawab pada manusia, meski pun isu kebebasan dan tanggung jawab sebenarnya seharusnya sudah ada sejak beberapa ribu tahun yang lalu, namun pembahasannya baru serius tampaknya sejak Rousseau, di sini filsafat juga berperan dalam masalah filosofis tentang kebebasan dan tanggung jawab.
Hakikat Manusia
Hakekat manusia adalah sebagai berikut :
a. Makhluk yang memiliki tenga dalam yang dapat menggerakkan hidupnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
b. Individu yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual dan sosial.
e. Individu yang dalam hidupnya selalu melibatkan dirinya dalam usaha untuk mewujudkan dirinya sendiri, membantu orang lain dan membuat dunia lebih baik untuk ditempati
h. Individu yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan turutama lingkungan sosial, bahkan ia tidak bisa berkembang sesuai dengan martabat kemanusaannya tanpa hidup di dalam lingkungan sosial.
Masalah manusia adalah terpenting dari semua masalah. Peradaban hari ini didasarkan atas humanisme, martabat manusia serta pemujaan terhadap manusia. Ada pendapat bahwa agama telah menghancurkan kepribadian manusia serta telah memaksa mengorbankan dirinya demi tuhan. Agama telah memamaksa ketika berhadapan dengan kehendak Tuhan maka manusia tidak berkuasa. (Ali Syariati, Paradigma Kaum Tertindas, 2001). Bagi Iqbal ego adalah bersifat bebas unifed dan immoratal dengan dapat diketahui secara pasti tidak sekedar pengandaian logis. Pendapat tersebut adalah membantah tesis yang dikemukanakn oleh Kant yang mengatakan bahwa diri bebas dan immortal tidak ditemukan dalam pengalaman konkit namun secara logis harus dapat dijatikan postulas bagi kepentingan moral. Hal ini dikarenakan moral manusia tidak masuk akal bila kehidupan manusia yang tidak bebas dan tidak kelanjutan kehidupannya setelah mati. Iqbal memaparkan pemikiran ego terbagi menjadi tiga macam pantheisme, empirisme dan rasionalisme. Pantheisme memandang ego manusia sebagai non eksistensi dimana eksistensi sebenarnya adalah ego absolut. Tetapi bagi Iqabal bahwa ego manusia adalah nyata, hal tersebut dikarenakan manusia berfikir dan manusia bertindak membuktikan bahwa aku ada.
Empirisme memandang ego sebagai poros pengalaman-pengalaman yang silih berganti dan sekedar penanaman yang real adalah pengalaman. Benak manusia dalam pandangan ini adalah bagaikan pangging teater bagai pengalaman yang silih berganti. Iqbal menolak empirisme orang yang tidak dapat menyangkal tentang yang menyatukan pengalaman. Iqbal juga menolak rasionalisme ego yang diperoleh memlalui penalaran dubium methodicum (semuanya bisa diragukan kecuali aku sedang ragu-ragu karena meragukan berarti mempertegas keberadaannya). Ego yang bebas, terpusat juga dapat diketahui dengan menggunakan intuisi. Menurut Iqbal aktivitas ego pada dasarnya adalah berupa aktivitas kehendak. Baginya hidup adalah kehendak kreatif yang bertujuan yang bergearak pada satu arah. Kehendak itu harus memiliki tujuan agar dapat makan kehendak tidak sirna. Tujuan tersebut tidak ditetapakan oleh hukum-hukum sejarah dan takdir dikarenakan manusia kehendak bebas dan berkreatif. (Donny Grahal Adian, Matinya Metafisika Barat, 2001)
Hakekat manusia harus dilihat pada tahapannya nafs, keakuan, diri, ego dimana pada tahap ini semua unsur membentuk keatuan diri yang aktual, kekinian dan dinamik, dan aktualisasi kekinian yang dinamik yang bearada dalam perbuatan dan amalnya. Secara subtansial dan moral manusia lebih jelek dari pada iblis, tetapi secara konseptual manusia lebih baik karena manusia memiliki kemampuan kreatif. Tahapan nafs hakekat manusia ditentukan oleh amal, karya dan perbuatannya, sedangkan pada kotauhid hakekat manusai dan fungsinya manusia sebagai ‘adb dan khalifah dan kekasatuan aktualisasi sebagai kesatuan jasad dan ruh yang membentuk pada tahapan nafs secara aktual. (Musa Asy’ari, Filsafat Islam, 1999)
Bagi Freire dalam memahami hakekat manusia dan kesadarannya tidak dapat dilepaskan dengan dunianya. Hubungan manusia harus dan selalu dikaitkan dengan dunia dimana ia berada. Dunia bagi manusia adalah bersifat tersendiri, dikarenakan manusia dapat mempersepsinya kenyataan diluar dirinya sekaligus mempersepsikan keberadaan didalam dirinya sendiri. Manusia dalam kehadirannya tidak pernah terpisah dari dunidan hungungganya dengan dunia manusia bersifat unik. Status unik manusia dengan dunia dikarenakan manusia dalam kapasistasnya dapat mengetahui, mengetahui merupakan tindakan yang mencerminkan orientasi manusia terhdap dunia. Dari sini memunculkan kesadaran atau tindakan otentik, dikarenakan kesadaran merupakan penjelasnan eksistensi penjelasan manusia didunia.
Orientasi dunia yang terpuasat oleh releksi kritiuas serta kemapuan pemikiran adalah proses mengetahui dan memahami. Dari sini manusia sebagaiu suatu proses dan ia adalah mahluk sejarah yang terikat dalam ruang dan waktu. Manusia memiliki kemapuan dan harus bangkit dan terlibat dalam proses sejarah dengan cara untuk menjadi lebih. (Siti Murtiningsih, Pendidikan sebagai Alat Perlawanan, 2004)
Manusia dalam konsep al Quran mengunakan kensep filosofis, seperti halnya dalam proses kejadian adam mengunakan bahasa metaforis filosofis yang penuh makna dan simbol. Kejadian manusia yakni esensi kudrat ruhaniah dan atributnya, sebagaimana dilukiskan dalam kisah adam dapat diredusir menjadi rumus.
a. Makhluk yang memiliki tenga dalam yang dapat menggerakkan hidupnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
b. Individu yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual dan sosial.
- yang mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif mampu mengatur dan mengontrol dirinya dan mampu menentukan nasibnya.
e. Individu yang dalam hidupnya selalu melibatkan dirinya dalam usaha untuk mewujudkan dirinya sendiri, membantu orang lain dan membuat dunia lebih baik untuk ditempati
- Suatu keberadaan yang berpotensi yang perwujudanya merupakan ketakterdugaan dengan potensi yang tak terbatas
h. Individu yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan turutama lingkungan sosial, bahkan ia tidak bisa berkembang sesuai dengan martabat kemanusaannya tanpa hidup di dalam lingkungan sosial.
Masalah manusia adalah terpenting dari semua masalah. Peradaban hari ini didasarkan atas humanisme, martabat manusia serta pemujaan terhadap manusia. Ada pendapat bahwa agama telah menghancurkan kepribadian manusia serta telah memaksa mengorbankan dirinya demi tuhan. Agama telah memamaksa ketika berhadapan dengan kehendak Tuhan maka manusia tidak berkuasa. (Ali Syariati, Paradigma Kaum Tertindas, 2001). Bagi Iqbal ego adalah bersifat bebas unifed dan immoratal dengan dapat diketahui secara pasti tidak sekedar pengandaian logis. Pendapat tersebut adalah membantah tesis yang dikemukanakn oleh Kant yang mengatakan bahwa diri bebas dan immortal tidak ditemukan dalam pengalaman konkit namun secara logis harus dapat dijatikan postulas bagi kepentingan moral. Hal ini dikarenakan moral manusia tidak masuk akal bila kehidupan manusia yang tidak bebas dan tidak kelanjutan kehidupannya setelah mati. Iqbal memaparkan pemikiran ego terbagi menjadi tiga macam pantheisme, empirisme dan rasionalisme. Pantheisme memandang ego manusia sebagai non eksistensi dimana eksistensi sebenarnya adalah ego absolut. Tetapi bagi Iqabal bahwa ego manusia adalah nyata, hal tersebut dikarenakan manusia berfikir dan manusia bertindak membuktikan bahwa aku ada.
Empirisme memandang ego sebagai poros pengalaman-pengalaman yang silih berganti dan sekedar penanaman yang real adalah pengalaman. Benak manusia dalam pandangan ini adalah bagaikan pangging teater bagai pengalaman yang silih berganti. Iqbal menolak empirisme orang yang tidak dapat menyangkal tentang yang menyatukan pengalaman. Iqbal juga menolak rasionalisme ego yang diperoleh memlalui penalaran dubium methodicum (semuanya bisa diragukan kecuali aku sedang ragu-ragu karena meragukan berarti mempertegas keberadaannya). Ego yang bebas, terpusat juga dapat diketahui dengan menggunakan intuisi. Menurut Iqbal aktivitas ego pada dasarnya adalah berupa aktivitas kehendak. Baginya hidup adalah kehendak kreatif yang bertujuan yang bergearak pada satu arah. Kehendak itu harus memiliki tujuan agar dapat makan kehendak tidak sirna. Tujuan tersebut tidak ditetapakan oleh hukum-hukum sejarah dan takdir dikarenakan manusia kehendak bebas dan berkreatif. (Donny Grahal Adian, Matinya Metafisika Barat, 2001)
Hakekat manusia harus dilihat pada tahapannya nafs, keakuan, diri, ego dimana pada tahap ini semua unsur membentuk keatuan diri yang aktual, kekinian dan dinamik, dan aktualisasi kekinian yang dinamik yang bearada dalam perbuatan dan amalnya. Secara subtansial dan moral manusia lebih jelek dari pada iblis, tetapi secara konseptual manusia lebih baik karena manusia memiliki kemampuan kreatif. Tahapan nafs hakekat manusia ditentukan oleh amal, karya dan perbuatannya, sedangkan pada kotauhid hakekat manusai dan fungsinya manusia sebagai ‘adb dan khalifah dan kekasatuan aktualisasi sebagai kesatuan jasad dan ruh yang membentuk pada tahapan nafs secara aktual. (Musa Asy’ari, Filsafat Islam, 1999)
Bagi Freire dalam memahami hakekat manusia dan kesadarannya tidak dapat dilepaskan dengan dunianya. Hubungan manusia harus dan selalu dikaitkan dengan dunia dimana ia berada. Dunia bagi manusia adalah bersifat tersendiri, dikarenakan manusia dapat mempersepsinya kenyataan diluar dirinya sekaligus mempersepsikan keberadaan didalam dirinya sendiri. Manusia dalam kehadirannya tidak pernah terpisah dari dunidan hungungganya dengan dunia manusia bersifat unik. Status unik manusia dengan dunia dikarenakan manusia dalam kapasistasnya dapat mengetahui, mengetahui merupakan tindakan yang mencerminkan orientasi manusia terhdap dunia. Dari sini memunculkan kesadaran atau tindakan otentik, dikarenakan kesadaran merupakan penjelasnan eksistensi penjelasan manusia didunia.
Orientasi dunia yang terpuasat oleh releksi kritiuas serta kemapuan pemikiran adalah proses mengetahui dan memahami. Dari sini manusia sebagaiu suatu proses dan ia adalah mahluk sejarah yang terikat dalam ruang dan waktu. Manusia memiliki kemapuan dan harus bangkit dan terlibat dalam proses sejarah dengan cara untuk menjadi lebih. (Siti Murtiningsih, Pendidikan sebagai Alat Perlawanan, 2004)
Manusia dalam konsep al Quran mengunakan kensep filosofis, seperti halnya dalam proses kejadian adam mengunakan bahasa metaforis filosofis yang penuh makna dan simbol. Kejadian manusia yakni esensi kudrat ruhaniah dan atributnya, sebagaimana dilukiskan dalam kisah adam dapat diredusir menjadi rumus.
Pentingnya Filsafat Bagi Kehidupan
Menurut Harold H. Titus, filsafat adalah suatu usaha memahami alam
semesta, maknanya dan nilainya. Apabila tujuan ilmu adalah kontrol, dan
tujuan seni adalah kreativitas, kesempurnaan, bentuk keindahan
komunikasi dan ekspresi, maka tujuan filsafat adalah pengertian dan
kebijaksanaan (understanding and wisdom).
Dr Oemar A. Hoesin mengatakan: Ilmu memberi kepada kita pengatahuan, dan filsafat memberikan hikmah. Filsafat memberikan kepuasan kepada keinginan manusia akan pengetahuan yang tersusun dengan tertib, akan kebenaran. S. Takdir Alisyahbana menulis dalam bukunya: filsafat itu dapat memberikan ketenangan pikiran dan kemantapan hati, sekalipun menghadapi maut. Dalam tujuannya yang tunggal (yaitu kebenaran) itulah letaknya kebesaran, kemuliaan, malahan kebangsawanan filsafat di antara kerja manusia yang lain. Kebenaran dalam arti yang sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya baginya, itulah tujuan yang tertinggi dan satu-satunya.
Bagi manusia, berfilsafat itu bererti mengatur hidupnya seinsaf-insafnya, senetral-netralnya dengan perasaan tanggung jawab, yakni tanggung jawab terhadap dasar hidup yang sedalam-dalamnya, baik Tuhan, alam, atau pun kebenaran. Radhakrishnan dalam bukunya, History of Philosophy, menyebutkan: Tugasfilsafat bukanlah sekadar mencerminkan semangat masa ketika kita hidup, melainkan membimbingnya maju. Fungsi filsafat adalah kreatif, menetapkan nilai, menetapkan tujuan, menentukan arah dan menuntun pada jalan baru. Filsafat hendaknya mengilhamkan keyakinan kepada kita untuk menompang dunia baru, mencetak manusia-manusia yang menjadikan penggolongan-penggolongan berdasarkan ‘nation’, ras, dan keyakinan keagamaan mengabdi kepada cita mulia kemanusiaan.
Filsafat tidak ada artinya sama sekali apabila tidak universal, baik dalam ruang lingkupnya maupun dalam semangatnya. Studi filsafat harus membantu orang-orang untuk membangun keyakinan keagamaan atas dasar yang matang secara intelektual. Filsafat dapat mendukung kepercayaan keagamaan seseorang, asal saja kepercayaan tersebut tidak bergantung pada konsepsi prailmiah yang usang, yang sempit dan yang dogmatis. Urusan (concerns) utama agama ialah harmoni, pengaturan, ikatan, pengabdian, perdamaian, kejujuran, pembebasan, dan Tuhan.
Berbeda dengan pendapat Soemadi Soerjabrata, yaitu mempelajari filsafat adalah untuk mempertajamkan pikiran, maka H. De Vos berpendapat bahwa filsafat tidak hanya cukup diketahui, tetapi harus dipraktekkan dalam hidup sehari-sehari. Orang mengharapkan bahwa filsafat akan memberikan kepadanya dasar-dasar pengetahuan, yang dibutuhkan untuk hidup secara baik. Filsafat harus mengajar manusia, bagaimana ia harus hidup secara baik. Filsafat harus mengajar manusia, bagaimana ia harus hidup agar dapat menjadi manusia yang baik dan bahagia. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan filsafat adalah mencari hakikat kebenaran sesuatu, baik dalam logika (kebenaran berpikir), etika (berperilaku), maupun metafisik (hakikat keaslian).
Dr Oemar A. Hoesin mengatakan: Ilmu memberi kepada kita pengatahuan, dan filsafat memberikan hikmah. Filsafat memberikan kepuasan kepada keinginan manusia akan pengetahuan yang tersusun dengan tertib, akan kebenaran. S. Takdir Alisyahbana menulis dalam bukunya: filsafat itu dapat memberikan ketenangan pikiran dan kemantapan hati, sekalipun menghadapi maut. Dalam tujuannya yang tunggal (yaitu kebenaran) itulah letaknya kebesaran, kemuliaan, malahan kebangsawanan filsafat di antara kerja manusia yang lain. Kebenaran dalam arti yang sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya baginya, itulah tujuan yang tertinggi dan satu-satunya.
Bagi manusia, berfilsafat itu bererti mengatur hidupnya seinsaf-insafnya, senetral-netralnya dengan perasaan tanggung jawab, yakni tanggung jawab terhadap dasar hidup yang sedalam-dalamnya, baik Tuhan, alam, atau pun kebenaran. Radhakrishnan dalam bukunya, History of Philosophy, menyebutkan: Tugasfilsafat bukanlah sekadar mencerminkan semangat masa ketika kita hidup, melainkan membimbingnya maju. Fungsi filsafat adalah kreatif, menetapkan nilai, menetapkan tujuan, menentukan arah dan menuntun pada jalan baru. Filsafat hendaknya mengilhamkan keyakinan kepada kita untuk menompang dunia baru, mencetak manusia-manusia yang menjadikan penggolongan-penggolongan berdasarkan ‘nation’, ras, dan keyakinan keagamaan mengabdi kepada cita mulia kemanusiaan.
Filsafat tidak ada artinya sama sekali apabila tidak universal, baik dalam ruang lingkupnya maupun dalam semangatnya. Studi filsafat harus membantu orang-orang untuk membangun keyakinan keagamaan atas dasar yang matang secara intelektual. Filsafat dapat mendukung kepercayaan keagamaan seseorang, asal saja kepercayaan tersebut tidak bergantung pada konsepsi prailmiah yang usang, yang sempit dan yang dogmatis. Urusan (concerns) utama agama ialah harmoni, pengaturan, ikatan, pengabdian, perdamaian, kejujuran, pembebasan, dan Tuhan.
Berbeda dengan pendapat Soemadi Soerjabrata, yaitu mempelajari filsafat adalah untuk mempertajamkan pikiran, maka H. De Vos berpendapat bahwa filsafat tidak hanya cukup diketahui, tetapi harus dipraktekkan dalam hidup sehari-sehari. Orang mengharapkan bahwa filsafat akan memberikan kepadanya dasar-dasar pengetahuan, yang dibutuhkan untuk hidup secara baik. Filsafat harus mengajar manusia, bagaimana ia harus hidup secara baik. Filsafat harus mengajar manusia, bagaimana ia harus hidup agar dapat menjadi manusia yang baik dan bahagia. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan filsafat adalah mencari hakikat kebenaran sesuatu, baik dalam logika (kebenaran berpikir), etika (berperilaku), maupun metafisik (hakikat keaslian).
PERAN GURU DALAM MENSUKSESKAN KURIKULUM
Manusia
pada dasarnya mau berubah tapi sulit untuk dirubah, karena manusia sulit
menerima perubahan. Disinilah peran guru harus bisa merubah Mind Set/ Pola
Pikir, karena tuntutan adanya perubahan kurikulum .
Kurikulum
dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni
berkembang secara dinamis. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan
kepentingan nasional dan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara.
Kurikulum adalah kurikulum
berbasis kompetensi, “outcomes-based curriculum” oleh karena itu
pengembangannya dirumuskan dalam Standar Kompetensi Lulusan. Dalam konstruk dan
isinya Kurikulum mementingkan terselenggaranya proses pembelajaran secara
interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi siswa untuk
berpartisipasi aktif. Proses belajar yang dilakukan dengan menggunakan
pendekatan ilmiah (scientific approach) dengan penilaian hasil belajar berbasis
proses dan produk.
Struktur
Kurikulum terdiri dari :
Kompetensi
Inti
Rumusan
kompetensi inti menggunakan 4 notasi
1. Kompetensi Inti-1 (KI-1) untuk kompetensi inti sikap
spiritual;
2. Kompetensi Inti-2 (KI-2) untuk kompetensi inti sikap
sosial;
3. Kompetensi Inti-3(KI-3) untuk kompetensi
pengetahuan; dan
4. Kompetensi Inti-4(KI-4) untuk kompetensi
ketrampilan.
Adapun
Implementasi Kurikulum menekankan pada penilaian berbasis proses
dan hasil. Konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar.
Ada
jenis-jenis penilaian autentik adalah :
1. Penilaian Kinerja
2. Penilaian Proyek
3. Penilaian Portofolio
4. Penilaian Tertulis
Peran
guru dalam mensukseskan kurikulum, yaitu :
1. Desainer pembelajaran
·
Mengerti latar belakang
kurikulum yang dirancang
·
Memahami silabus mata pelajaran
dengan melakukan analistis
·
Membuat RPP.
2. Melaksanakan
Pembelajaran
Dalam
kurikulum proses
belajar yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan ilmiah (scientific
approach).
a.
Mengamati : melihat, membaca,
mendengar, menyimak (tanpa dan dengan alat).
b.
Menanya : mengajukan pertanyaan dari
yang faktual sampai ke yang bersifat hipotesis dan diawali dengan bimbingan
guru sampai dengan mandiri (menjadi suatu kebiasaan).
c.
Mengumpulkan data : menentukan
data yang diperlukan dari pertanyaan yang diajukan, menentukan sumber data
(benda, dokumen, buku dan eksperimen).
d.
Mengasosiasi : menganalisis data,
menyimpulkan dari hasil analisis data.
e.
Mengkomunikasikan : menyampaikan
hasil konseptualisasi dalam bentuk lisan, tulisan, diagram, bagan, gambar atau
media lainnya.
3. Melaksanakan
penilaian dan evaluasi
Dalam melaksanakan penilaian dan
evaluasi meliputi Aspek
Kognitif, afektif dan Psikomotor Penilaian harus sejalan dengan proses pembelajaran
4. mengikuti
pelatihan
Disini guru wajib mengikuti pelatihan
kurikulum, agar lebih memahami dan mengerti proses pembelajaran dari kurikulum
dan dapat mensukseskan kurikulum tersebut.
FILSAFAT
Jika ditanya “Apa itu Filsafat?” yang terlintas di benak saya
adalah suatu hal yangselalu menuntut saya, untuk dapat berpikir “keras” guna
menjawab sebuah pertanyaan,walaupun sekilas terlihat, pertanyaan tersebut
sepele, namun filsafat membuat saya untuk dapat berpikir lain daripada
biasanya untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut. Tetapi terkadangfilsafat tidak hanya muncul ketika timbul sebuah
pertanyaan dalam diri saya , ia juga terbiasamuncul dalam pemikiran saya
yang dapat membuat saya melontarkan argumen yang lebihteoritis, sitematis dan
juga kritis. Filsafat itu bersifat teoritis, sistematis, kritis tetapi juga
penuhinspiratif yang dapat membuat kita dapat mencetuskan inovasi - inovasi
terbaru dalam kehidupankita karena di dalam
filsafat itu sendiri juga “memaksa” kita untuk megeluarkan ide – ide yangada
dalam benak kita, walaupun ide tersebut hanyalah ide yang bisa dibilang
hanyalah ide yangsederhana.Ia juga mengajarkan kita untuk dapat lebih
bijaksana dalam menjawab pertanyaan – pertanyaan dalam hidup kita.
Akan tetapi, jika kita berbicara filsafat dalam hal keilmuan atauakademis ,
pasti yang terpikirkan hanyalah sebuah ilmu yang abstrak , penuh teka – teki,
istilah – istilah yang sulit dimengerti atau kebanyakan anak muda jaman
sekarang menyebutnya “bahasatingkat tinggi”
dan masih banyak lagi pengertian yang menggambarkan betapa sulitnya filsafatdalam
hal akademis. Namun, seperti halnya dengan yang saya katakan tadi , filsafat
membuatkita dapat mencetuskan inovasi - inovasi terbaru dalam kehidupan kita.
Itulah mengapa sayayakin mahasiswa Teknologi Informasi seperti saya
ataupun mahasiswa dengan disiplin – displinilmu lainnya perlu mempelajari
filsafat. Ia bukanlah sebuah ilmu yang mati, tetapi sebuah ilmuyang telah melewati proses demi proses, pencarian
atas sebuah jawaban yang dilakukan terusmenerus.Filsafat membuat kita
semakin dewasa sebagai manusia dalam pelbagai aspek kehidupan.Terkadang
filsafat juga membuat kita, memandang segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda,
membuat kita “menyaksikan” apa yang ada disekeliling kita, bukan hanya terfokus
padasatu titik permasalahan dan juga
filsafat bisa dibilang adalah jembatan penghubung antara halyang bisa
ditangkap logika kita ataupun hal yang diluar jangkauan logika kita sebagai
manusia.Ketika kita berbicara mengenai filsafat, pasti juga tidak akan lepas
dari pertanyaan “Bagaimanakita berfilsafat?”. Tanpa disadari dalam kehidupan
kita sehari – hari kita juga sering berfilsafat , baik kita berfilsafat
dalam hal yang sesederhana mungkin, ataupun pada tingkatan yang rumit. Misalnya, timbul sebuah pertanyaan “Untuk
apa saya makan ?” nah, dengan berfilsafatkita pun akan melihat jawaban
dengan sudut pandang yang berbeda atas pertanyaan tersebut, jikadilihat dari
naluri kita sebagai manusia, pasti kita akan menjawab “karena kita lapar”, akan
tetapi bisa saja dengan melihatnya dari sudut pandang filsafat, kita akan
menjawab “karena kita butuhtenaga, untuk
memulai aktifitas kita”. Itulah sebagian kecil dari berbagai macam contoh kita berfilsafat
dalam kehidupan sehari – hari kita. Filsafat tidak bisa dengan seenaknya saja
kitaabaikan dalam kehidupan kita, ia merupakan sarana yang sangat ampuh dalam
mengatasi pelbagai akibat buruk yang disebabkan oleh kita. Ia juga mampu
menolong kehidupan kita melalui usaha perbaikan diri, pengetahuan mengenai diri
kita sendiri, kritik diri serta penguasaandiri.Filsafat lebih dari sekedar berteori, berpikir, atau juga berupa
pertanyaan yang bersifatkritis, ia adalah praktek kehidupan filosofis
dalam etosnya. Filsafat menjadikan dirinya menjadisebuah eksperimen, disiplin dan pelbagai siksaan yang penuh intrik
serta problematikakehidupan. Namun
bukan berarti filsafat dapat dengan mudah mengatur kehidupan atau jugadunia
ini dengan baik, ia juga membutuhkan proses berpikir yang selalu mengarahkan
kitakepada tindakan yang praksis, dari tindakan praksis inilah yang membawa
kita kepada pola piker yang dewasa.Melalui
sikap – sikap positif serta kematangan dalam sikaplah yang akan membuat kitamampu
dalam mengatasi tantangan – tantangan dalam kehidupan kita. Ia akan melembutkandunia
yang penuh dengan kekasaran ini, ia juga menghangatkan dunia dari dinginnya
pola pikir yang hanya menuntut jawaban – jawaban yang pasti tanpa melihat
permasalahan tersebut darisisi lain
kehidupan.Dengan sikap seperti inilah,kehidupan yang selalu dipenuhi dengan permasalahan
pasti bisa kita lewati dengan mudah. Filsafat akan selalu ada, dimana rasakeingintauan
masih selalu ada dalam benak kita, filsafat akan terus muncul melewati
pertanyaan – pertanyaan yang bersifat kritis, argumen – argumen yang
teoritis, sistematis dan jugaterkonsep.
Selama manusia masih ada serta perkembangan dunia ini tidak pernah padam, makafilsafat
akan selalu mendampingi manusia dalam mengarungi kehidupan sehari - hari
mereka.
Langganan:
Postingan (Atom)