Senin, 26 Januari 2015

Implikasi Filsafat Pendidikan Idialisme


No
Aspek
Implikasi Filsafat Pendidikan Idialisme
1
Tujuan Pendidikan
Tujuan Pendidikan Pendidikan formal dan informal bertujuan membentuk karakter dan mengembangkan bakat atau kemampuan dasar serta kebaikan social.
2
Kurikulum
Kurikulum pendidikan liberal untuk pengembangan kemampuan rasional dan pendidikan praktis untuk memperoleh pekerjaan.
3
Metode Pembelajaran
Metode Diutamakan metode dealektika, tetapi metode lain yang efektif dapat dimanfaatkan.
4
Peserta Didik
Kedudukan siswa bebas utnuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan dasarnya/bakatnya.
5
Peran guru
Peran guru bekerja sama dengan alam dalam proses pengembangan manusia, terutama bertanggung jawab dalam menciptakan lingkungan pendidikan siswa.

Manfaat Filsafat Bagi Kehidupan

Dengan befikir filsafat, kita dapat mengatasi kemelut hidup. Hal ini dapat terjadi karena dengan memahami apa itu filsafat, maka kita dapat menggunakannya atau menerapkannya didalam kehidupan sehari-hari, sehingga tidak mengarah kepada jalur yang tidak pernah diharapkan sebelumnya.
Beragam masalah di Indonesia tidak akan bisa selesai dengan pendekatan-pendekatan teknis, seperti pendekatan ekonomi teknis, pendekatan politik teknis, pendekatan teknologi teknis, ataupun pendekatan budaya teknis. Beragam masalah tersebut bisa selesai dengan sendirinya, jika setiap orang Indonesia mau berfilsafat, yakni menjadikan filsafat sebagai jalan hidup, apapun profesi sehari-hari mereka. Jalan hidup filsafat menawarkan pencerahan yang menggairahkan.
Filsafat timbul karena kodrat manusia. Manusia mengerti bahwa hidupnya tergantung dari pengetahuannya. Pengetahuan itu digunakan untuk menyembpurnakan kehidupannya.  Karena konsekuensi dari pandangan filsafat itu sangat penting dan menentukan sikap orang terhadap dirinya sendri, terhadap orang lain, dunia, dan tuhannya. Tingkah laku manusia berlainan sekali dengan tingkah laku hewan, manusia adalah merdeka,ia dapat mengerti, menciptakan kebudayaan, ilmu pengetahuan.

Filsafat itu  berhubungan erat dengan sikap orang dan pandangan  hidup manusia, justru karena filsafat mempersoalkan dan menanyakan sebab – sebab ya ng terakhir dari kesmua yang ada.

Apabila filsafat dijadikan suatu ajaran hidup maka ini berarti bahwa orang mengharapkan dari filsafat itu dasar – dasar ilmiah yang dibutuhkannya nuntuk hidup. Filsafat diharapkan memberikan petunjuk – petunjuk tentang bagaimana kita harus hidup untuk menjadi manusia sempurna, baik, susila dan bahagia.

Filsafat manusia

Ruang lingkup filsafat manusia dan metodenya pertama-tama mencoba memahami filsafat manusia dengan menjelaskan objek material dan objek formalnya, menjelaskan persamaan, perbedaan dan hubungan antara filsafat manusia dengan berbagai ilmu tentang manusia lain lalu baru disampaikan metode-metode dalam filsafat manusia. Pejajaran pertama yaitu tentang corak dan berbagai aliran dalam filsafat manusia dibagi atas:
  • Corak pemikiran manusia dalam filsafat manusia
  • Berbagai aliran dalam filsafat manusia
  • Pembahasan tentang tesis-tesis tentang manusia dan gambaran manusia seutuhnya
    Dimensi kejasmanian dan kerohanian antara lain membahas tentang:
  • Manusia sebagai makhluk yang memiliki struktur fisik (tubuh)
  • Manusia sebagai makhluk yang memiliki akal budi (jiwa)
  • Manusia sebagai makhluk yang memiliki dimensi roh
  • Pandangan banyak filsuf terhadap bagaimana hubungan aspek kejasmanian dan kerohanian di dalam diri perorangan.
Kita tahu bahwa manusia merupakan makhluk sosial, oleh karena itu filsafat manusia juga membahas tentang dimensi sosialitas dan keunikan manusia. Pembahasannya dibagi atas beberapa lingkup yaitu:
  • Sosialitas manusia
  • Manusia sebagai makhluk sosial
  • Manusia sebagai pribadi (subjek otonom)
  • Manusia sebagai makhluk yang bermasyarakat
  • Pandangan tentang sosialitas dan keunikan manusia serta prinsip dasar dalam pengaplikasiannya
Manusia, katakanlah saya atau Anda pasti memiliki corak pemikiran sendiri sesuai dengan pengalaman dan watak masing-masing. Inilah yang dapat disebut ideal menurut diri sendiri. Dari sini pembahasan filsafat manusia juga tidak lepas dari pembahasan manusia sebagai makhluk yang memiliki idealisme.
Sejak zaman Rousseau, demokrasi, liberal, dan perkembangannya membawa dampak pendiskusian mendalam tentang kebebasan dan tanggung jawab pada manusia, meski pun isu kebebasan dan tanggung jawab sebenarnya seharusnya sudah ada sejak beberapa ribu tahun yang lalu, namun pembahasannya baru serius tampaknya sejak Rousseau, di sini filsafat juga berperan dalam masalah filosofis tentang kebebasan dan tanggung jawab.

Hakikat Manusia

Hakekat manusia adalah sebagai berikut :
a.  Makhluk yang memiliki tenga dalam yang dapat menggerakkan hidupnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
b.  Individu yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual dan sosial.
  1. yang mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif mampu mengatur dan mengontrol dirinya dan mampu menentukan nasibnya.
d.  Makhluk yang dalam proses menjadi berkembang dan terus berkembang tidak pernah selesai (tuntas) selama hidupnya.
e.  Individu yang dalam hidupnya selalu melibatkan dirinya dalam usaha untuk mewujudkan dirinya sendiri, membantu orang lain dan membuat dunia lebih baik untuk ditempati
  1. Suatu keberadaan yang berpotensi yang perwujudanya merupakan ketakterdugaan dengan potensi yang tak terbatas
g.  Makhluk Tuhan yang berarti ia adalah makhluk yang mengandung kemungkinan baik dan jahat.
h.  Individu yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan turutama lingkungan sosial, bahkan ia tidak bisa berkembang sesuai dengan martabat kemanusaannya tanpa hidup di dalam lingkungan sosial.

Masalah manusia adalah terpenting dari semua masalah. Peradaban hari ini didasarkan atas humanisme, martabat manusia serta pemujaan terhadap manusia. Ada pendapat bahwa agama telah menghancurkan kepribadian manusia serta telah memaksa mengorbankan dirinya demi tuhan. Agama telah memamaksa ketika berhadapan dengan kehendak Tuhan maka manusia tidak berkuasa. (Ali Syariati, Paradigma Kaum Tertindas, 2001). Bagi Iqbal ego adalah bersifat bebas unifed dan immoratal dengan dapat diketahui secara pasti tidak sekedar pengandaian logis. Pendapat tersebut adalah membantah tesis yang dikemukanakn oleh Kant yang mengatakan bahwa diri bebas dan immortal tidak ditemukan dalam pengalaman konkit namun secara logis harus dapat dijatikan postulas bagi kepentingan moral. Hal ini dikarenakan moral manusia tidak masuk akal bila kehidupan manusia yang tidak bebas dan tidak kelanjutan kehidupannya setelah mati. Iqbal memaparkan pemikiran ego terbagi menjadi tiga macam pantheisme, empirisme dan rasionalisme. Pantheisme memandang ego manusia sebagai non eksistensi dimana eksistensi sebenarnya adalah ego absolut. Tetapi bagi Iqabal bahwa ego manusia adalah nyata, hal tersebut dikarenakan manusia berfikir dan manusia bertindak membuktikan bahwa aku ada.

Empirisme memandang ego sebagai poros pengalaman-pengalaman yang silih berganti dan sekedar penanaman yang real adalah pengalaman. Benak manusia dalam pandangan ini adalah bagaikan pangging teater bagai pengalaman yang silih berganti. Iqbal menolak empirisme orang yang tidak dapat menyangkal tentang yang menyatukan pengalaman. Iqbal juga menolak rasionalisme ego yang diperoleh memlalui penalaran dubium methodicum (semuanya bisa diragukan kecuali aku sedang ragu-ragu karena meragukan berarti mempertegas keberadaannya). Ego yang bebas, terpusat juga dapat diketahui dengan menggunakan intuisi. Menurut Iqbal aktivitas ego pada dasarnya adalah berupa aktivitas kehendak. Baginya hidup adalah kehendak kreatif yang bertujuan yang bergearak pada satu arah. Kehendak itu harus memiliki tujuan agar dapat makan kehendak tidak sirna. Tujuan tersebut tidak ditetapakan oleh hukum-hukum sejarah dan takdir dikarenakan manusia kehendak bebas dan berkreatif. (Donny Grahal Adian, Matinya Metafisika Barat, 2001)
Hakekat manusia harus dilihat pada tahapannya nafs, keakuan, diri, ego dimana pada tahap ini semua unsur membentuk keatuan diri yang aktual, kekinian dan dinamik, dan aktualisasi kekinian yang dinamik yang bearada dalam perbuatan dan amalnya. Secara subtansial dan moral manusia lebih jelek dari pada iblis, tetapi secara konseptual manusia lebih baik karena manusia memiliki kemampuan kreatif. Tahapan nafs hakekat manusia ditentukan oleh amal, karya dan perbuatannya, sedangkan pada kotauhid hakekat manusai dan fungsinya manusia sebagai ‘adb dan khalifah dan kekasatuan aktualisasi sebagai kesatuan jasad dan ruh yang membentuk pada tahapan nafs secara aktual. (Musa Asy’ari, Filsafat Islam,    1999)
Bagi Freire dalam memahami hakekat manusia dan kesadarannya tidak dapat dilepaskan dengan dunianya. Hubungan manusia harus dan selalu dikaitkan dengan dunia dimana ia berada. Dunia bagi manusia adalah bersifat tersendiri, dikarenakan manusia dapat mempersepsinya kenyataan diluar dirinya sekaligus mempersepsikan keberadaan didalam dirinya sendiri. Manusia dalam kehadirannya tidak pernah terpisah dari dunidan hungungganya dengan dunia manusia bersifat unik. Status unik manusia dengan dunia dikarenakan manusia dalam kapasistasnya dapat mengetahui, mengetahui merupakan tindakan yang mencerminkan orientasi manusia terhdap dunia. Dari sini memunculkan kesadaran atau tindakan otentik, dikarenakan kesadaran merupakan penjelasnan eksistensi penjelasan manusia didunia.

Orientasi dunia yang terpuasat oleh releksi kritiuas serta kemapuan pemikiran adalah proses mengetahui dan memahami. Dari sini manusia sebagaiu suatu proses dan ia adalah mahluk sejarah yang terikat dalam ruang dan waktu. Manusia memiliki kemapuan dan harus bangkit dan terlibat dalam proses sejarah dengan cara untuk menjadi lebih. (Siti Murtiningsih, Pendidikan sebagai Alat Perlawanan, 2004)
Manusia dalam konsep al Quran mengunakan kensep filosofis, seperti halnya dalam proses kejadian adam mengunakan bahasa metaforis filosofis yang penuh makna dan simbol. Kejadian manusia yakni esensi kudrat ruhaniah dan atributnya, sebagaimana dilukiskan dalam kisah adam dapat diredusir menjadi rumus.

Pentingnya Filsafat Bagi Kehidupan

Menurut Harold H. Titus, filsafat adalah suatu usaha memahami alam semesta, maknanya dan nilainya. Apabila tujuan ilmu adalah kontrol, dan tujuan seni adalah kreativitas, kesempurnaan, bentuk keindahan komunikasi dan ekspresi, maka tujuan filsafat adalah pengertian dan kebijaksanaan (understanding and wisdom).
Dr Oemar A. Hoesin mengatakan: Ilmu memberi kepada kita pengatahuan, dan filsafat memberikan hikmah. Filsafat memberikan kepuasan kepada keinginan manusia akan pengetahuan yang tersusun dengan tertib, akan kebenaran. S. Takdir Alisyahbana menulis dalam bukunya: filsafat itu dapat memberikan ketenangan pikiran dan kemantapan hati, sekalipun menghadapi maut. Dalam tujuannya yang tunggal (yaitu kebenaran) itulah letaknya kebesaran, kemuliaan, malahan kebangsawanan filsafat di antara kerja manusia yang lain. Kebenaran dalam arti yang sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya baginya, itulah tujuan yang tertinggi dan satu-satunya.
Bagi manusia, berfilsafat itu bererti mengatur hidupnya seinsaf-insafnya, senetral-netralnya dengan perasaan tanggung jawab, yakni tanggung jawab terhadap dasar hidup yang sedalam-dalamnya, baik Tuhan, alam, atau pun kebenaran. Radhakrishnan dalam bukunya, History of Philosophy, menyebutkan: Tugasfilsafat bukanlah sekadar mencerminkan semangat masa ketika kita hidup, melainkan membimbingnya maju. Fungsi filsafat adalah kreatif, menetapkan nilai, menetapkan tujuan, menentukan arah dan menuntun pada jalan baru. Filsafat hendaknya mengilhamkan keyakinan kepada kita untuk menompang dunia baru, mencetak manusia-manusia yang menjadikan penggolongan-penggolongan berdasarkan ‘nation’, ras, dan keyakinan keagamaan mengabdi kepada cita mulia kemanusiaan.
Filsafat tidak ada artinya sama sekali apabila tidak universal, baik dalam ruang lingkupnya maupun dalam semangatnya. Studi filsafat harus membantu orang-orang untuk membangun keyakinan keagamaan atas dasar yang matang secara intelektual. Filsafat dapat mendukung kepercayaan keagamaan seseorang, asal saja kepercayaan tersebut tidak bergantung pada konsepsi prailmiah yang usang, yang sempit dan yang dogmatis. Urusan (concerns) utama agama ialah harmoni, pengaturan, ikatan, pengabdian, perdamaian, kejujuran, pembebasan, dan Tuhan.
Berbeda dengan pendapat Soemadi Soerjabrata, yaitu mempelajari filsafat adalah untuk mempertajamkan pikiran, maka H. De Vos berpendapat bahwa filsafat tidak hanya cukup diketahui, tetapi harus dipraktekkan dalam hidup sehari-sehari. Orang mengharapkan bahwa filsafat akan memberikan kepadanya dasar-dasar pengetahuan, yang dibutuhkan untuk hidup secara baik. Filsafat harus mengajar manusia, bagaimana ia harus hidup secara baik. Filsafat harus mengajar manusia, bagaimana ia harus hidup agar dapat menjadi manusia yang baik dan bahagia. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan filsafat adalah mencari hakikat kebenaran sesuatu, baik dalam logika (kebenaran berpikir), etika (berperilaku), maupun metafisik (hakikat keaslian).

PERAN GURU DALAM MENSUKSESKAN KURIKULUM



Manusia pada dasarnya mau berubah tapi sulit untuk dirubah, karena manusia sulit menerima perubahan. Disinilah peran guru harus bisa merubah Mind Set/ Pola Pikir, karena tuntutan adanya perubahan kurikulum .
Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni berkembang secara dinamis. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Kurikulum adalah kurikulum berbasis kompetensi, “outcomes-based curriculum” oleh karena itu pengembangannya dirumuskan dalam Standar Kompetensi Lulusan. Dalam konstruk dan isinya Kurikulum mementingkan terselenggaranya proses pembelajaran secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif. Proses belajar yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan ilmiah (scientific approach) dengan penilaian hasil belajar berbasis proses dan produk.
Struktur Kurikulum terdiri dari :
Kompetensi Inti
Rumusan kompetensi inti menggunakan 4 notasi
1.      Kompetensi Inti-1 (KI-1) untuk kompetensi inti sikap spiritual;
2.      Kompetensi Inti-2 (KI-2) untuk kompetensi inti sikap sosial;
3.      Kompetensi Inti-3(KI-3) untuk kompetensi pengetahuan; dan
4.      Kompetensi Inti-4(KI-4) untuk kompetensi ketrampilan.

Adapun Implementasi Kurikulum menekankan pada penilaian berbasis proses dan hasil. Konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar.
Ada jenis-jenis penilaian autentik adalah :
1.      Penilaian Kinerja
2.      Penilaian Proyek
3.      Penilaian Portofolio
4.      Penilaian Tertulis


Peran guru dalam mensukseskan kurikulum, yaitu :
1.      Desainer pembelajaran
·         Mengerti latar belakang kurikulum yang dirancang
·         Memahami silabus mata pelajaran dengan melakukan analistis
·         Membuat  RPP.
2.      Melaksanakan Pembelajaran
Dalam kurikulum proses belajar yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan ilmiah (scientific approach).
a.       Mengamati : melihat, membaca, mendengar, menyimak (tanpa dan dengan alat).
b.      Menanya : mengajukan pertanyaan dari yang faktual sampai ke yang bersifat hipotesis dan diawali dengan bimbingan guru sampai dengan mandiri (menjadi suatu kebiasaan).
c.       Mengumpulkan data : menentukan data yang diperlukan dari pertanyaan yang diajukan, menentukan sumber data (benda, dokumen, buku dan eksperimen).
d.      Mengasosiasi : menganalisis data, menyimpulkan dari hasil analisis data.
e.       Mengkomunikasikan : menyampaikan hasil konseptualisasi dalam bentuk lisan, tulisan, diagram, bagan, gambar atau media lainnya.
3.      Melaksanakan penilaian dan evaluasi
Dalam melaksanakan penilaian dan evaluasi meliputi Aspek Kognitif, afektif dan Psikomotor Penilaian harus sejalan dengan proses pembelajaran
4.      mengikuti pelatihan
Disini guru wajib mengikuti pelatihan kurikulum, agar lebih memahami dan mengerti proses pembelajaran dari kurikulum dan dapat mensukseskan kurikulum tersebut.

FILSAFAT

 


Jika ditanya “Apa itu Filsafat?” yang terlintas di benak saya adalah suatu hal yangselalu menuntut saya, untuk dapat berpikir “keras” guna menjawab sebuah pertanyaan,walaupun sekilas terlihat, pertanyaan tersebut sepele, namun filsafat membuat saya untuk dapat berpikir lain daripada biasanya untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut. Tetapi terkadangfilsafat tidak hanya muncul ketika timbul sebuah pertanyaan dalam diri saya , ia juga terbiasamuncul dalam pemikiran saya yang dapat membuat saya melontarkan argumen yang lebihteoritis, sitematis dan juga kritis. Filsafat itu bersifat teoritis, sistematis, kritis tetapi juga penuhinspiratif yang dapat membuat kita dapat mencetuskan inovasi - inovasi terbaru dalam kehidupankita karena di dalam filsafat itu sendiri juga “memaksa” kita untuk megeluarkan ide – ide yangada dalam benak kita, walaupun ide tersebut hanyalah ide yang bisa dibilang hanyalah ide yangsederhana.Ia juga mengajarkan kita untuk dapat lebih bijaksana dalam menjawab pertanyaan –  pertanyaan dalam hidup kita. Akan tetapi, jika kita berbicara filsafat dalam hal keilmuan atauakademis , pasti yang terpikirkan hanyalah sebuah ilmu yang abstrak , penuh teka – teki, istilah – istilah yang sulit dimengerti atau kebanyakan anak muda jaman sekarang menyebutnya “bahasatingkat tinggi” dan masih banyak lagi pengertian yang menggambarkan betapa sulitnya filsafatdalam hal akademis. Namun, seperti halnya dengan yang saya katakan tadi , filsafat membuatkita dapat mencetuskan inovasi - inovasi terbaru dalam kehidupan kita. Itulah mengapa sayayakin mahasiswa Teknologi Informasi seperti saya ataupun mahasiswa dengan disiplin – displinilmu lainnya perlu mempelajari filsafat. Ia bukanlah sebuah ilmu yang mati, tetapi sebuah ilmuyang telah melewati proses demi proses, pencarian atas sebuah jawaban yang dilakukan terusmenerus.Filsafat membuat kita semakin dewasa sebagai manusia dalam pelbagai aspek kehidupan.Terkadang filsafat juga membuat kita, memandang segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda, membuat kita “menyaksikan” apa yang ada disekeliling kita, bukan hanya terfokus padasatu titik permasalahan dan juga filsafat bisa dibilang adalah jembatan penghubung antara halyang bisa ditangkap logika kita ataupun hal yang diluar jangkauan logika kita sebagai manusia.Ketika kita berbicara mengenai filsafat, pasti juga tidak akan lepas dari pertanyaan “Bagaimanakita berfilsafat?”. Tanpa disadari dalam kehidupan kita sehari – hari kita juga sering berfilsafat , baik kita berfilsafat dalam hal yang sesederhana mungkin, ataupun pada tingkatan yang rumit. Misalnya, timbul sebuah pertanyaan “Untuk apa saya makan ?” nah, dengan berfilsafatkita pun akan melihat jawaban dengan sudut pandang yang berbeda atas pertanyaan tersebut, jikadilihat dari naluri kita sebagai manusia, pasti kita akan menjawab “karena kita lapar”, akan tetapi bisa saja dengan melihatnya dari sudut pandang filsafat, kita akan menjawab “karena kita butuhtenaga, untuk memulai aktifitas kita”. Itulah sebagian kecil dari berbagai macam contoh kita berfilsafat dalam kehidupan sehari – hari kita. Filsafat tidak bisa dengan seenaknya saja kitaabaikan dalam kehidupan kita, ia merupakan sarana yang sangat ampuh dalam mengatasi pelbagai akibat buruk yang disebabkan oleh kita. Ia juga mampu menolong kehidupan kita melalui usaha perbaikan diri, pengetahuan mengenai diri kita sendiri, kritik diri serta penguasaandiri.Filsafat lebih dari sekedar berteori, berpikir, atau juga berupa pertanyaan yang bersifatkritis, ia adalah praktek kehidupan filosofis dalam etosnya. Filsafat menjadikan dirinya menjadisebuah eksperimen, disiplin dan pelbagai siksaan yang penuh intrik serta problematikakehidupan. Namun bukan berarti filsafat dapat dengan mudah mengatur kehidupan atau jugadunia ini dengan baik, ia juga membutuhkan proses berpikir yang selalu mengarahkan kitakepada tindakan yang praksis, dari tindakan praksis inilah yang membawa kita kepada pola piker yang dewasa.Melalui sikap – sikap positif serta kematangan dalam sikaplah yang akan membuat kitamampu dalam mengatasi tantangan – tantangan dalam kehidupan kita. Ia akan melembutkandunia yang penuh dengan kekasaran ini, ia juga menghangatkan dunia dari dinginnya pola pikir yang hanya menuntut jawaban – jawaban yang pasti tanpa melihat permasalahan tersebut darisisi lain kehidupan.Dengan sikap seperti inilah,kehidupan yang selalu dipenuhi dengan permasalahan pasti bisa kita lewati dengan mudah. Filsafat akan selalu ada, dimana rasakeingintauan masih selalu ada dalam benak kita, filsafat akan terus muncul melewati pertanyaan – pertanyaan yang bersifat kritis, argumen – argumen yang teoritis, sistematis dan jugaterkonsep. Selama manusia masih ada serta perkembangan dunia ini tidak pernah padam, makafilsafat akan selalu mendampingi manusia dalam mengarungi kehidupan sehari - hari mereka.